Pertunjukan ini Tidak Hanya Menghibur, Tetapi Juga Menyampaikan Pesan Kuat: Setiap anak Berhak Bermimpi, Tanpa Terkecuali.

16

PelitaTangerang.com, Tangsel – Panggung Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Pembina Teater Tanah Pucung, *Hanifah*, menegaskan pementasan ini lahir dari semangat inklusivitas.

“Ini upaya kami memberi ruang kepada anak-anak untuk berekspresi lewat seni, tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi mereka,” ujarnya.

Anak-anak ABK dari wilayah Pondok Pucung dilibatkan penuh, mulai dari proses latihan hingga tampil di atas panggung bersama para seniman. Bagi Hanifah, keterlibatan mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

Makna Judul: “Amat Mau Jadi Presiden”
Judul pertunjukan sengaja dipilih untuk menanamkan optimisme.
“Kami mengangkat judul _Amat Mau Jadi Presiden_ karena semua anak Indonesia boleh bermimpi. Dari mimpi itulah kalian akan menjadi seseorang,” kata Hanifah.

Cerita yang dibawakan mengajak penonton percaya bahwa cita-cita besar bisa dimulai dari langkah kecil, termasuk dari anak-anak yang sering dianggap “berbeda”.

Jejak Panjang Teater Tanah Pucung dan Lahirnya BKN
Hanifah menuturkan, Teater Tanah Pucung memiliki sejarah panjang. Awalnya sanggar ini berada di bawah Balai Kesenian Oncor milik almarhum *Ray Sahetapy*.
Setelah sanggar berkembang, para pegiat kemudian mendirikan *Balai Kesenian Nusantara* sebagai wadah baru.
“Setelah beliau meninggal, kami mengajak orang-orang yang dulu bergabung di Teater Tanah Pucung. Jadilah BKN sebagai rumah bagi sanggar-sanggar,” jelasnya.

Apresiasi dari Pemerintah dan Sponsor
Apresiasi datang dari *Wahyu*, perwakilan Kementerian Kebudayaan UPT Banten. Ia menilai kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus jembatan kolaborasi budaya dengan pemerintah daerah.

“Harapannya kegiatan seperti ini dapat rutin dilaksanakan setiap tahun, agar seni dan budaya daerah semakin dikenal masyarakat,” ucapnya.

Senada, *Wiken* dari Foundation selaku sponsor juga memberikan dukungan.
“Kami bangga dengan perjuangan BKN yang tidak mudah. Semoga ke depan semakin besar dan dikenal. Ini juga wadah positif agar anak-anak tidak terlalu tergantung pada HP,” katanya.

Harapan kepada Pemerintah Kota Tangsel
Di akhir, Hanifah menyampaikan harapan besar kepada Pemkot Tangsel. Selama ini pihaknya telah beberapa kali mengajukan audiensi dan proposal, namun dukungan berupa anggaran dan tempat latihan belum maksimal.

“Kami benar-benar mengharapkan Pemkot Tangsel membantu terkait anggaran maupun lokasi untuk latihan dan pertunjukan,” ungkapnya.

Ia juga berharap BKN dan Teater Tanah Pucung dapat terus melestarikan kesenian lokal, seperti kesenian Betawi dan kesenian khas Banten.

Pementasan _“Amat Mau Jadi Presiden”_ menjadi bukti bahwa seni mampu meruntuhkan batas. Di atas panggung yang sama, mimpi anak berkebutuhan khusus berdiri sejajar dengan mimpi anak lainnya. Dan dari Tangsel, pesan itu menggema: semua anak boleh bermimpi.(Faisol)