PelitaTangerang.com, Tangerang – Proyek pembangunan jalan hotmix di Kp. Cijengir RT 06/RW 03, Kelurahan Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, kembali menuai sorotan. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh CV Aditya Berkah Semesta dengan pagu anggaran sebesar Rp99.815.000 tersebut diduga dikerjakan tidak sesuai dengan standar teknis yang semestinya. Senin 17/08/2026
Pantauan di lokasi memunculkan sejumlah pertanyaan serius, terutama terkait volume pekerjaan dan material lapisan dasar jalan. Secara kasat mata, material yang digunakan sebagai lapisan dasar justru tampak menyerupai lumpur, bukan material agregat/base course atau split sebagaimana lazimnya digunakan dalam konstruksi perkerasan jalan.
Kondisi ini tentu patut dipertanyakan. Lapisan pondasi merupakan bagian penting dalam pekerjaan hotmix karena berfungsi menopang lapisan di atasnya. Apabila material dasar tidak memenuhi spesifikasi atau mengandung terlalu banyak material halus/lumpur, kualitas dan daya tahan jalan berpotensi menjadi persoalan.
Namun demikian, dugaan tersebut tentunya perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis dan pengujian material. Karena itu, instansi terkait semestinya tidak hanya mengandalkan pemeriksaan secara visual, tetapi melakukan pengecekan terhadap jenis material, gradasi agregat, ketebalan lapisan, kepadatan, serta kesesuaian dengan RAB dan spesifikasi kontrak.
apakah material yang digelar benar-benar base course sesuai spesifikasi, atau hanya material yang secara visual menyerupai lumpur?
Jika ternyata material yang digunakan tidak sesuai dokumen kontrak, maka persoalannya menjadi serius karena menyangkut mutu pekerjaan sekaligus pertanggungjawaban anggaran.
Selain persoalan material, pekerjaan hotmix tersebut juga diduga mengalami pengurangan volume. Indikasi tersebut patut diverifikasi melalui pengukuran langsung di lapangan, mencakup panjang, lebar, dan terutama ketebalan lapisan hotmix.
Dengan pagu mencapai Rp99.815.000, kami berhak mengetahui apakah volume pekerjaan yang direalisasikan benar-benar sesuai dengan volume yang tercantum dalam kontrak.
Jangan sampai anggaran dibayarkan berdasarkan volume yang seharusnya, tetapi pekerjaan fisik di lapangan justru lebih kecil. Bila hal tersebut terbukti, maka diperlukan pemeriksaan dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan.
Sorotan semakin tajam ketika pihak media berupaya meminta penjelasan kepada pengawas Kecamatan Curug berinisial Den melalui WhatsApp terkait kondisi pekerjaan tersebut.
Namun, upaya konfirmasi tersebut tidak membuahkan hasil. Respons yang diharapkan untuk menjelaskan persoalan teknis pekerjaan tidak diperoleh, sehingga pihak pengawas terkesan acuh terhadap pertanyaan publik melalui media.
Sikap seperti ini tentu patut disayangkan. Pengawasan proyek pemerintah bukan sekadar hadir ketika pekerjaan berlangsung, tetapi juga memastikan pelaksanaan sesuai spesifikasi dan memberikan penjelasan ketika terdapat dugaan penyimpangan yang dipertanyakan.
Jika pekerjaan memang sudah sesuai standar, seharusnya tidak sulit bagi pihak pengawas memberikan penjelasan mengenai jenis agregat, ketebalan, volume, metode pemadatan, serta spesifikasi hotmix yang digunakan.
Sebaliknya, diamnya pihak yang berwenang justru berpotensi menimbulkan semakin banyak pertanyaan.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab memastikan setiap proyek yang menggunakan anggaran publik menghasilkan pekerjaan berkualitas. Nilai Rp99.815.000 bukan angka yang kecil.
Karena itu, Inspektorat maupun instansi teknis terkait perlu turun langsung melakukan pemeriksaan fisik, bukan sekadar memeriksa dokumen administrasi.
Jika ditemukan kekurangan volume atau material yang tidak sesuai spesifikasi, maka harus ada tindakan korektif dan pertanggungjawaban dari pihak yang bertanggung jawab.
Anggaran publik bukan uang tanpa pemilik. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan pekerjaan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.(D.s)










